Sebulan terakhir Kita dijejali dan “dipaksa membaca” kisah heorik dua sisi yang berseteru abadi : sisi baik dan sisi jahat, baik oleh media cetak maupun elektronik. Sisi jahat menjadi stigma para teroris dengan kelompoknya yang bernama Jamaah Islamiyah, wabil khusus pemimpin tertinggi terorisnya tidak lain dan tidak bukan adalah Noordin M Top, buron nomor wahid Asia Tenggara. Sedangkan sisi baik diklaimkan kepada aparat pemerintah, wabil khusus Polri (Densus 88).
Sejak bom meledak di Mega Kuningan, pada hari Jum’at pagi sekitar jam 07.00 (07), 17 Juli (1707) 2009, NMT disebut-sebut sebagai otak serangan mematikan nan biadab tersebut. Dari berita yang beredar, lolosnya bom hingga bisa leluasa meledak di hotel mewah JW Marriot dan Ritz Carlton itu sebelumnya sudah direncanakan oleh penyewa kamar 1808 di lantai 18 JW Marriot. Kedua hotel tersebut merupakan hotel milik Amerika Serikat, the only one Negara adikuasa di dunia yang sangat dibenci oleh para teroris tersebut. Meskipun bertindak gegabah, namun peledak bom tersebut masih sayang kepada Wayne Rooney dan para pemain MU lainnya. Buktinya mereka meladakkan diri di kawasan yang sedianya akan menjadi tempat bermalam pemain2 Klub Inggris itu. Kedatangan kedua kalinya MU ke Indonesia itu direncanakan pada tanggal 20 Juli 2009 (2007) yang akan meladeni Bambang Pamungkas dan laskar Indonesian Allstars yang lain. Karena kejadian memalukan tersebut, MU urung bertandang ke Indonesia. Pupuslah harapan jutaan fans MU di Indonesia.
Selepas ledakan bom tersebut, Polri dan Densus 88 kian intensif memburu para teroris dan sang gembong. Hingga akhirnya Polri dan Densus 88 mencium aroma NMT dkk di Jatiasih, sebuah kawasan perumahan tak lebih dari 15 km dari kediaman SBY, Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor. Bahkan menurut intelejen, kediaman pribadi sang Presiden RI asal Pacitan, Jawa Timur itu menjadi target serangan plus Istana Negara pun demikian. Dengan jeli Polri dan Densus 88 berhasil menggagalkan serangan dan menangkap operasi serampangan yang membahayakan Negara itu. Namun sang aktor NMT berhasil lari dari kejaran aparat keamanan. Diduga pria asal Johor, Malaysia itu bersembunyi di Temanggung, Jawa Tengah.
Lagi-lagi aparat keamanan mencium NMT dkk di sekitar Kedu, Temanggung. Maka sejak Jum’at sore 07 Agustus (0708) 2009 Polri dan Densus 88 mengepung dan menggrebek rumah yang diduga kuat menjadi persembunyian NMT. Informasi keberadaan NMT di rumah Djahri tersebut berasal dari dua orang kakak-adik pemilik bengkel tak jauh dari lokasi penggrebekan. Baku tembak pun tak terelakkan, bahkan rumah tersebut dihujani granat hingga tidak berbentuk lagi. Serangan bombardir tersebut berlanghsung hingga berjam-jam, antara 17-18 jam, bahkan disiarkan live (kaya’ reality show ya…) di stasiun Metro TV dan TV One. Baru pada menjelang pukul 10, Sabtu 08 Agustus (88/0808) 2009 orang yang didalam rumah tersebut baru bisa dilumpuhkan dan bahkan dikabarkan tewas di kamar mandi diberondong peluru aparat.
Dengan tewasnya teroris yang diduga kuat NMT itu, aparat keamanan sangat gembira, bahkan sang Kapolri BHD pun dating ke lokasi kejadian. Masyarakat pun menduga yang tewas adalah NMT. Namun, hingga jenazah diangkut ambulans untuk diterbangkan ke RS Polri Jakarta, Kapolri diam seribu bahasa. Seluruh rakyat Indonesia menunggu dengan gelisah siapa gerangan teroris yang tewas di Kedua tersebut. NMT kah atau yang lain? Pemberitaan sangat ramai : Polisi yakin NMT, pengamat ragu. Bahkan Media Malaysia pun meragukan tewasnya NMT.
“Teroris yang tewas di Kedu bukanlah NMT. Dia adalah Ibrohim, seorang floris di Ritz Carlton”. Demikian suara resmi Polri. Menurut dugaan NMT telah menghilang sebelum penyergapan, Jum’at tersebut. Dan menurut Koran Tempo hari ini, NMT kemungkinan bersembunyi di daerah Klaten. Dan Ibrohim juga mendalangi peledakan bom di Mega Kuningan 1707-2009 itu.
Angka-angka yang unik…semoga kamar 1808 (semoga bukan 18 Agustus 2009 ???) lantai 18 bukanlah malapetaka…
Siapakah Jamaah Islamiyah itu?
Adalah fakta bahwa JI disebut-sebut sebagai kelompok pelaku teroris di seantero Indonesia sejak dahulu. Penyebutan JI sebagai otak teroris berimplikasi pada dua hal :
1) Penyebutan JI sebagai otak pelaku teroris sebenarnya terlalu menyederhakan masalah, karena siapa pun bisa saja menjadi pelaku teroris, tidak hanya JI. Lebih-lebih menurut kabar yang beredar dan statement beberapa petinggi pemerintah dan mantan pejabat BIN bahwa para teroris terbut adalah orang-orang yang akan mendirikan Negara Islam atau Daulah Islamiyah. Serta para teroris tersebut adalah orang-orang yang selalu menanamkan kebencian kepada apa yang disebut dengan Negara Barat, dimana Amerika Serikat adalah panglimanya. Sehingga dengan demikian apa pun produk Barat, lebih-lebih ideologi Barat, menurut orang-orang radikal tersebut, harus dilawan! Dan para teroris itu mengkalim bahwa negara-negara penganut demokrasi dan teman Barat/AS adalah musuh yang harus dilenyapkan! Dengan klaim tersebut, maka Indonesia termasuk di dalamnya, makanya harus diperangi!
2) Penyebutan JI sebagai pelaku teroris menjadikan orang-orang yang tidak sepaham dengan JI bisa selamat. Karena dengan klaim tersebut menyebabkan the only one hanya JI lah biang kerok segala tindakan teroris, bukan yang lain. Sehingga misalnya adanya tindakan-tindakan teroris, maka secara otomatis jari telunjuk aparat pasti mengarah kepada JI.
Tulisan saya ini muncul lebih karena gregeten dengan klaim bahwa pelaku teror adalah orang-orang “islam”. “islam” disini saya yakin sangat-sangat berbeda dengan Islam yang merupakan risalah yang dibawa oleh Muhammad saw yang bersumber dari Tuhan (ALLOH). Saya menyebut Tuhan itu ALLOH, karena keyakinan saya mengarah kepada-NYA. Karena menurut keyakinan saya, arti hakiki dari Islam adalah penghambaan diri yang sesungguhnya kepada sang pencipta, ALLOH. Amalannya jelas-jelas tidak seperti yang diyakini oleh para teroris tersebut. Justru penyebutan label tersebut sangat-sangat jelas telah merendahkan derajat Islam yang hakiki. Islam tidak bersahabat dengan “islam”. Jelas-jelas “islam” tidak sama dengan Islam. Memang beberapa pernyataan dan tindakan para teroris itu sama sebagaimana yang diajarkan Islam. Namun sebenarnya itu bukanlah Islam itu sendiri. Islam adalah ajaran damai, ajaran kemaslahatan umat manusia. Dan menurut keyakinan saya, di alam semesta raya ini hanya ada 1 ajaran yaitu Islam, karena Tuhan pun hanya 1 : ALLOH. Tak mungkin ada Tuhan 2-3 dst, karena jamaknya Tuhan berarti jamak pula ajarannya.
Dan sebagai anak bangsa Republik Indonesia, saya amat sangat mencintai seluruh segenap rakyat Indonesia. Meskipun disana-sini masih saja ada kekurangan, namun itu tak mengecilkan kecintaanku kepada Indonesia Raya, sebuah Negara kepulauan yang kaya raya. Bumi dimana saya dibesarkan. Bumi dimana saya bisa memperoleh pendidikan holistik (saya mengenal ALLOH, Muhamamad, Iptek, dll). Bumi dimana saya menemukan sahabat-sahabat sebagai tempat curhat. Bumi dimana saya mendapatkan kecintaan kepada sebuah Negara-Bangsa : Indonesia Raya (saya jadi sedikit paham Mahapatih Gadjah Mada dan tokoh2 bangsa yang lain, juga kepada para Presiden RI). Bumi dimana saya memproleh kedamaian dan menikmati dalam menjalankan ajaran-ajaran agama yang saya anut dan saya yakini. Dirgahayu RI ke-64! I love U full…! Love Jogja, Love Indonesia, Love Universe!
Siapa sesungguhnya teroris itu?
Menurut bahasa, teror atau meneror adalah tindakan yang sangat tidak terpuji, karena berarti mengancam kenyamanan/kemapanan. Pelaku teror atau orang yang meneror disebut teroris. Jadi, dengan demikian, siapa pun itu jika dalam tindakannya meneror maka dia pantas menyandang gelar : teroris! Namun karena istilah tidak lepas dari lingkungan yang melingkupinya, maka teroris menjadi istilah yang sangat mengerikan terkait dengan tindakan-tindakan yang dilakukannya. Dalam level rendah, teroris hanyalah seseorang atau kelompok yang meneror kenyamanan, bisa berarti orang lain, keluarga, dan masyarakat. Meskipun bisa saja teror mengena kepada level yang lebih tinggi semisal Negara dan seantero dunia. Pun efek yang ditimbulkannya lebih kecil. Sedangkan apa yang dibicarakan ini adalah teroris dalam artian yang tinggi/luas. Para teroris meneror bukan hanya orang lain, keluarga, masyarakat, namun juga Negara dan dunia. Target teroris, menurut temuan aparat intelejen Negara, yakni Kediaman SBY, Istana Negara, Kantor KPU, dll itu sudah jelas-jelas mengarah kepada teroris level tinggi.
Oleh karena temuan tersebut, akhirnya aparat keamanan dibantu oleh media mempertontonkan aksi-aksi para teroris, seperti : pengeboman, hotel/gedung/rumah rusak berat, mayat-mayat berantakan, pengepungan, penggrebekan, dan sejenisnya yang diselingi dengan bunyi-bunyian peralatan senjata, hingga menjadikan warga sekitar dan masyarakat pada umumnya mengalami ketakutan, sebenarnya itu pun sudah termasuk ke dalam istilah teror. Plus kejadian salah tangkap oleh aparat keamanan yang jelas-jelas telah menodai seseorang, keluarga, dan masyarakat dimana ia tinggal. Bahkan kalau kita onceki lebih luas lagi, kita akan miris dengan pelbagai kejadian memilukan di dunia, di bumi dimana kita bersama-sama kita diami ini : suatu Negara dengan tanpa berdosa memerangi Negara lain yang jelas-jelas tidak bersalah. Beragam alas an dilontarkan demi kemenangan tindakannya.
“Membaca fakta” tersebut, saya sering bertanya-tanya : apakah memang Tuhan menciptakan manusia saling bermusuhan? Dari kitab suci yang saya yakini, saya menemukan bahwa awal sejarah manusia sudah terjadi pertumpahan darah diantara saudara sekandung. Kala itu anak manusia pertama (Adam as) yang bernama Qobil membunuh adiknya Habil gara-gara Qobil tak mau menuruti perintah sang ayah untuk tidak menikahi adik perempuannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah kembarannya Habil. Namun begitu, saya tidak yakin bahwa dari sejarah paling awal kemanusiaan itulah, manusia-manusia sekarang meniru : mengambil pelajaran yang keliru! Sampai akhirnya saya punya kesimpulan hari ini, bahwa : ALLOH begitu amat sangat kasihsayang kepada manusia. Buktinya alam semesta diciptakan untuk manusia! Dan manusia pula yang harus mengelolanya. Ada pun banyaknya kejadian yang menyalahi aturan-aturan ALLOH (sunnatulloh) itu karena : dunia seisinya tak cukup untuk seorang yang rakus, sampai ajal menjemputnya. Demikian ujar Mahatma Gandhi. Padahal, Gandhi melanjutkan, sebenarnya dunia lebih dari cukup untuk kemaslahatan umat manusia.
Dengan fakta-fakta yang tergelar tersebut, alangkah bijaknya Kita sebagai sesama anak bangsa dan sesama umat manusia ciptaan ALLOH harus memiliki solidaritas tinggi, memiliki moral yang terpuji. Dan yang paling penting adalah senantiasa mengamalkan ajaran-ajaran agama yang kita anut, karena yakinlah bahwa sudah pasti ajaran-ajaran yang berasal dari ALLOH tersebut mengajarkan kepada kita kepada kebaikan dan kebenaran yang hakiki, bukan kejahatan, apalagi teror yang biadab! Kalau masih tidak percaya tanya saja kepada ALLOH. Saya yakin ALLOH akan sangat mampu menjawabnya!
Love Jogja, Love Indonesia, Love Universe!




































